7.19.2013

imam al-ghazali

Imam Ghazali terbangun pada dini hari dan sebagaimana biasanya melakukan shalat dan kemudian beliau bertanya pada adiknya, “Hari apakah sekarang ini?” 
Adiknya pun menjawab, “Hari senin.”
Beliau kemudian memintanya untuk mengambilkan sajadah putihnya, lalu beliau menciumnya, Menggelarnya dan kemudian berbaring diatasnya s…ambil berkata lirih, “Ya Allah, hamba mematuhi perintahMu,”
… dan beliau pun menghembuskan nafas terakhirnya.Di bawah bantalnya mereka menemukan bait-bait berikut, ditulis oleh Al-Ghazali ra., barangkali pada malam sebelumnya.
“Katakan pada para sahabatku, ketika mereka melihatku, mati Menangis untukku dan berduka bagiku
Janganlah mengira bahwa jasad yang kau lihat ini adalah aku
Dengan nama Allah, kukatakan padamu, ini bukanlah aku,
Aku adalah jiwa, sedangkan ini hanyalah seonggok daging
Ini hanyalah rumah dan pakaian ku sementara waktu.
Aku adalah harta karun, jimat yang tersembunyi,
Dibentuk oleh debu ,yang menjadi singgasanaku,
Aku adalah mutiara, yang telah meninggalkan rumahnya,
Aku adalah burung, dan badan ini hanyalah sangkar ku
Dan kini aku lanjut terbang dan badan ini kutinggal sbg kenangan
Puji Tuhan, yang telah membebaskan aku
Dan menyiapkan aku tempat di surga tertinggi,
Hingga hari ini , aku sebelumnya mati, meskipun hidup diantara mu.
Kini aku hidup dalam kebenaran, dan pakaian kubur ku telah ditanggalkan.
Kini aku berbicara dengan para malaikat diatas,
Tanpa hijab, aku bertemu muka dengan Tuhanku.
Aku melihat Lauh Mahfuz, dan didalamnya ku membaca
Apa yang telah, sedang dan akan terjadi.
Biarlah rumahku runtuh, baringkan sangkarku di tanah,
Buanglah sang jimat, itu hanyalah sebuah kenang2an, tidak lebih
Sampingkan jubahku, itu hanyalah baju luar ku,
Letakkan semua itu dalam kubur, biarkanlah terlupakan
Aku telah melanjutkan perjalananku dan kalian semua tertinggal.
Rumah kalian bukanlah tempat ku lagi.
Janganlah berpikir bahwa mati adalah kematian, tapi itu adalah kehidupan,
Kehidupan yang melampaui semua mimpi kita disini,
Di kehidupan ini, kita diberikan tidur,
Kematian adalah tidur, tidur yang diperpanjang
Janganlah takut ketika mati itu mendekat,
Itu hanyalah keberangkatan menuju rumah yang terberkati ini
Ingatlah akan ampunan dan cinta Tuhanmu,
Bersyukurlah pada KaruniaNya dan datanglah tanpa takut.
Aku yang sekarang ini, kau pun dapat menjadi
Karena aku tahu kau dan aku adalah sama
Jiwa-jiwa yang datang dari Tuhannya
Badan badan yang berasal sama
Baik atapun jahat, semua adalah milik kita
Aku sampaikan pada kalian sekarang pesan yang menggembirakan
Semoga kedamaian dan kegembiraan Allah menjadi milikmu selamanya.
Source http://www.ghazali.org/

lagi-kisah berhikmah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sebenarnya cerita ini sudah banyak tersebar di banyak blog dan tempat lain, tapi… saya hanya ingin berbagi kepada sahabat semuanya satu kisah yang membuat saya terharu saat pertama kali membacanya….
Semoga kita senantiasa mampu mengingat dan memaknai cerita ini untuk terus berbenah dan menjadi berbekal,
Suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang wanita kafir. Ketika itu baginda bersama beberapa orang sahabat. Wanita itu membawa beberapa biji buah limau sebagai hadiah untuk baginda. Cantik sungguh buahnya. Siapa yang melihat pasti terliur. Baginda menerimanya dengan senyuman gembira. Hadiah itu dimakan oleh Rasulullah SAW seulas demi seulas dengan tersenyum.
Biasanya Rasulullah SAW akan makan bersama para sahabat, namun kali ini tidak. Tidak seulas pun limau itu diberikan kepada mereka. Rasulullah SAW terus makan. Setiap kali dengan senyuman, hinggalah habis semua limau itu. Kemudian wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda.
Sahabat-sahabat agak heran dengan sikap Rasulullah SAW itu. Lalu mereka bertanya. Dengan tersenyum Rasulullah SAW menjelaskan “Tahukah kamu, sebenarnya buah limau itu terlalu masam semasa saya merasainya kali pertama. Kiranya kalian turut makan bersama, saya bimbang ada di antara kalian yang akan mengenyetkan mata atau memarahi wanita tersebut. Saya bimbang hatinya akan tersinggung. Sebab itu saya habiskan semuanya.”
Begitulah akhlak Rasulullah SAW. Baginda tidak akan memperkecil-kecilkan pemberian seseorang biarpun benda yang tidak baik, dan dari orang bukan Islam pula. Wanita kafir itu pulang dengan hati yang kecewa. Mengapa? Sebenarnya dia bertujuan ingin mempermain-mainkan Rasulullah SAW dan para sahabat baginda dengan hadiah limau masam itu. Malangnya tidak berjaya. Rancangannya di’tewas’kan oleh akhlak mulia Rasulullah SAW.


 http://virouz007.wordpress.com

bahagia??

Alasan setiap manusia menuntut ilmu setinggi-tingginya baik dengan pendidikan formal di sekolah atau pelatihan-pelatihan, bekerja siang dan malam membanting tulang tanpa kenal lelah, mulai dari Pak Petani di sawah dan ladang sampai ke Pak Presiden di istana megah nan menjulang, adalah karena satu dorongan yaitu demi meraih kebahagiaan. Namun, mengapa kebahagiaan itu tak jua kunjung didapat? Mengapa hidup ini tetap saja terasa ruwet, sumpek, tidak bahagia walau kekayaan sudah ditangan, jabatan tinggi sudah berhasil diraih, bahkan popularitas sudah pula diperoleh.
Tulisan ini saya peruntukkan bagi mereka, para pencari kebahagiaan, tak terkecuali diri saya sendiri, agar dapat kembali mengingat apa hakikat sebenarnya dari usaha mencari kebahagiaan ini
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, arti kata kebahagiaan adalah kesenangan dan ketentraman hidup yang bersifat lahir dan batin. Demi meraih kebahagiaan ini, manusia rela melakukan apa saja walau sampai harus melukai dirinya sendiri. Permasalahannya, kadang kita keliru dalam memahami konsep kebahagiaan yang akibatnya membuat kita keliru pula dalam cara mewujudkannya. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa kebahagiaan itu bersumber dari tiga hal yaitu; kekayaan, popularitas, dan kekuasaan.
Sebut saja seorang ayah yang sedang menasehati anaknya untuk rajin belajar di sekolah. Sudah tidak asing lagi rasanya ditelinga kita bahwa sang Ayah akan berkata,
“rajin-rajin lah belajar di sekolah ya nak, agar kamu jadi orang pinter, kalo kamu pinter kamu bisa bekerja di tempat yang bagus, jadi kamu bisa punya uang yang banyak, bisa punya rumah yang bagus, bisa hidup layak dihargai dan dikenal masyarakat, dan tentu suatu saat bisa juga membantu orang-orang yang lemah”.
Sekilas, memang tidak ada yang salah pada kalimat sang ayah, bahkan mungkin terdengar mulia, karena sang ayah mendidik si anak agar menjadi orang yang dermawan. Namun, apakah kalau tidak bisa jadi orang kaya, lantas semua kebahagiaan itu akan sirna? Lalu bagaimana dengan nasib orang yang terlahir dengan kondisi tidak sempurna, seperti cacat tidak memiliki kaki atau tangan, sehingga tidak mampu melakukan apa-apa selain meminta pertolongan; atau bagaimana dengan nasib orang yang lahir dari keluarga miskin seperti dibelahan dunia Afrika sana? Jangankan memikirkan pendidikan, memikirkan masalah makanan untuk esok hari saja amatlah sulit. Apakah kebahagiaan hanya untuk mereka yang kebetulan bernasib baik lahir dengan kondisi sehat dan serba lengkap? Atau kebahagiaan hanya milik mereka yang sukses mendapatkan harta berlimpah, terkenal, dan punya jabatan penting? Dimanakah letak keadilan Tuhan?
Kesalahan dalam memahami konsep kebahagiaan dapat berakibat sangat fatal. Contohnya, fenomena yang terjadi di Jepang. Jepang dikenal dengan negara super power dalam hal kekuatan ekonomi, teknologi, maupun karakter manusianya yang sangat santun, taat aturan, pekerja keras, jujur, dan juga sangat ramah. Namun disisi lain, Jepang juga sangat terkenal sebagai negara yang sangat tinggi angka bunuh dirinya. Pihak kepolisian Jepang mencatat kasus bunuh diri di Jepang mencapai sekitar 33 ribu orang pada tahun 2009 atau sekitar 100 orang setiap harinya. Bayangkan! ada 100 orang setiap hari bunuh diri di Jepang. Celakanya, fenomena bunuh diri ini berada pada urutan tertinggi dari penyebab kematian di Jepang untuk orang yang berumur antara 20-39 tahun, yaitu umur produktif dalam bekerja.
Lembaga-lembaga penelitian masyarakat mengungkapkan bahwa penyebab utama dari tingginya angka bunuh diri ini adalah karena depresi mental akibat tekanan ekonomi dan sosial. Sungguh paradoks rasanya mengingat Jepang sebuah negara yang kaya, dengan penduduknya yang rata-rata berpendidikan tinggi, fasilitas pemenuh kebutuhan dan kesehatan tersedia dengan lengkap, namun tetap saja masyarakatnya tidak juga dapat memperoleh kebahagiaan; sehingga memilih mati bunuh diri karena putus asa menjalani pahitnya kehidupan.

Dalam upaya meraih kebahagiaan, sering kali kita keliru dalam membedakan mana kesenangan dan mana kebahagiaan. Hal ini mengakibatkan kita terjebak pada kesenangan yang tidak membawa pada kebahagiaan. Untuk itu kita harus dapat membedakan dengan baik antara kesenangan dan kebahagiaan.
Menurut ilmu kedokteran, kesenangan adalah aktifitas yang dapat diamati secara fisik pada otak manusia yang terjadi akibat dirangsangnya saraf “pusat kesenangan” atau “pleasure center”. Saraf yang dirangsang ini akan menghasilkan mekanisme hormonal, yaitu keluarnya suatu zat kimia dari neuron di otak yang mengakibatkan timbulnya rasa enak, senang, dan nikmat. Jadi, untuk memperoleh rasa senang, mudah saja caranya, yaitu dengan merangsang saraf pusat kesenangan ini, misalnya dengan obat-obatan tanpa perlu bekerja atau bersusah payah. Sayangnya hal ini tidak dapat bertahan lama. Sementara kebahagiaan adalah keadaan yang berlangsung lama, tidak sementara, yang berhubungan dengan penilaian pada kehidupan secara keseluruhan. Kegagalan dalam membedakan makna kesenangan dan kebahagiaan membuat kita sering kali terfokus pada pemenuhan kesenangan, bukan kebahagiaan itu sendiri.
Tidak semua kesenangan membawa kebahagiaan. Sudah sering kita temukan fakta-fakta bahwa orang-orang yang secara umum dianggap bahagia, malah tidak merasa bahagia. Contohnya artis-artis terkenal yang malah stres karena tidak memiliki kehidupan pribadi yang normal akibat ketenarannya sendiri, seorang politikus yang malah menjadi sakit jiwa karena bangkrut akibat kalah kampanye, atau seorang konglomerat kaya raya yang merasa depresi tidak bahagia karena keluarganya berantakan kurang perhatian dan kasih sayang. Lebih parahnya lagi, pemenuhan kesenangan untuk mencapai kebahagiaan ini justru yang alih-alih menjadi salah satu penyebab utama rusaknya moral masyarakat, sehingga terjadi masalah kecanduan obat-obat terlarang, miras, penyakit sex karena gaya hidup bebas, pencurian, perampokan, korupsi, pembunuhan, dan tindakan kriminal lain yang dilakukan demi mendapatkan kebahagiaan, padahal yang diperoleh hanya kesenangan sementara.
Allah SWT berfirman pada Al-Qur’an surat Thaahaa ayat 124;
“dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Q.S.Thaahaa (20) : 124)
Rekan-rekan pencari kebahagiaan, pada surat Thaahaa diatas sebenarnya Sang Pencipta telah dengan jelas memberikan jawaban atas sumber dari semua permasalahan kebahagiaan. Allah SWT mengungkapkan rahasia penting bahwa pengabaian kita terhadap aturan-aturan dan peringatan-Nya akan mengakibatkan setidaknya dua bencana besar.
Yang pertama adalah kehidupan dunia yang sempit. Hidup dirundung banyak masalah, silih berganti dari satu masalah ke masalah yang lain. Hidup terasa sumpek, stres, ruwet, dan tidak kunjung bahagia padahal harta dan kekayaan sudah ditangan, jabatan penting sudah berhasil diraih, bahkan popularitas sudah pula diperoleh.
Yang Kedua adalah yang paling parah, yaitu sudah lah tidak mendapatkan kebahagiaan di dunia, di akhirat pun sudah pasti akan mendapat siksa. Kita akan dikumpulkan dan diazab serta dibuat buta diakhirat nanti. Naudzubillah min dzalik.
Lalu apa yang harus kita lakukan agar dapat memperoleh kebahagian hidup? Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S.An-Nahl (16) : 97).
Sudah sangat tegas penjelasan Allah SWT pada surat An-Nahl ayat 97 ini bahwa satu-satunya cara memperoleh kebahagiaan atau kehidupan yang baik itu adalah dengan mengerjakan amal-amal sholeh; yaitu taat pada seluruh aturan-Nya dan menjalankan segala perintah serta larangan-Nya.
Inilah konsep kebahagiaan yang hakiki; yaitu tujuan hidup kita di dunia ini, baik itu dalam belajar, bekerja, ataupun berusaha, hanya satu saja “mendapatkan ridho Allah SWT”.
Kekayaan, popularitas dan kekuasaan tidak lagi menjadi tujuan utama; sehingga terlepas apakah sebuah usaha kita berhasil atau gagal, kita akan tetap merasa bahagia karena tujuan utama kita dalam berusaha adalah mendapatkan ridho Allah SWT, bukan kekayaan, popularitas, ataupun jabatan semata.
Seberat apapun cobaan, kesulitan, dan penderitaan yang dirasakan, akan dapat dilalui dengan ikhlas, mudah, dan hati lapang; karena kita yakin Allah SWT akan membalas semua usaha itu dengan ganjaran pahala yang berlipat ganda. Ini lah yang dimaksud dengan kehidupan yang baik pada surat An-Nahl (16) : 97 diatas, yaitu tercapainya kebahagiaan hakiki. Hidup jadi terasa ringan, mudah, simple, penuh makna, tidak sia-sia, dan tanpa beban, karena kunci kebahagiaan adalah bukan pada hasil tetapi pada cara mewujudkannya. Hati akan senantiasa ikhlas menerima apapun ketentuan Tuhan, karena yakin bahwa itu lah hasil terbaik yang diberikan Sang Maha Pengasih dan Penyayang.
Dengan konsep kebahagiaan hakiki ini, masalah ketidakadilan Tuhan yang saya kemukakan diawal tulisan ini dapat dengan mudah dipecahkan. Walaupun seorang manusia dilahirkan dengan kondisi cacat dan dari keluarga miskin sekalipun, atau semua usaha yang dilakukan berujung pada kegagalan dan penderitaan sekalipun, semua itu tidak akan membuatnya tidak bahagia dan putus asa apalagi sampai bunuh diri. Karena, sekali lagi, kebahagiaan hakiki diperoleh ketika ia berhasil mendapatkan ganjaran pahala atas apa yang diusahakannya; yaitu usaha yang dilakukan dengan dasar aturan-aturan yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai tambahan, dengan dilengkapi pemahaman yang baik dalam membedakan kesenangan dan kebahagiaan, kita jadi lebih pandai memilih kesenangan apa yang boleh dan baik untuk kita, sehingga pada akhirnya benar-benar tercapai kebahagiaan yang hakiki.
Akhirnya, agar kita selalu menjadi orang yang sukses, beruntung, bahagia, dan selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT, izinkan saya menutup tulisan ini dengan mensitir Surat Al-Baqarah (1) ayat 2-5 yang artinya; “Kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) Mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka, dan Mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan Mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Karena itu, jadilah orang yang bertakwa jika ingin bahagia!

seneng-

jiahh,,,
alhamdulillah,,seneng banget rasanya kalo denger temen-temen dah bisa dapet apa yang mereka pengen....
berhasil ketrima di universitas yang dipengen,bisa kuliah di jurusan yang diimpikan...
seneng banget rasanya...
ikut seneng lah buat keberhasilan kalian semua....

Yaaa,,walaupun aku sendiri belum bisa dapet yang aku pengen tapi setidaknya,denger kabar kalian berhasil tuh dah bisa jadi obat,dah bikin aku seneng,,,
seneng karena akhirnya kalian berhasil nglewatin tantangan itu...

hehehe...
Selamat ya,buat kawan-kawanku tersayang :)
SUKSES TERUS BUAT KE DEPANNYA....


dear you

friends,,,:)

tentang al-aqsha

Penjajah Zionis Akan Bangun Hotel di Atas Pemakaman Muslim Bersejarah
19 July 2013, 14:43.
YOGYAKARTA, Jum’at (SahabatAlAqsha.com): Harian zionis Maariv mengungkapkan, pemerintah penjajah zionis ‘israel’ tengah mengembangkan rencana pembangunan hotel dan fasilitas terkaitnya di lingkungan pemakaman bersejarah Ma’Aman Allah di kota suci. Hotel dan beberapa bangunan lainnya akan dibangun di sebelah Selatan pemakaman dan berlawanan dengan sebuah museum yang mereka sebut Museum Toleransi yang juga didirikan di lokasi pemakaman.
Seperti dilaporkan oleh Middle East Monitor, harian itu mencatat, komite keuangan pemerintah penjajah telah mengalokasikan anggaran khusus untuk proyek tersebut dan bekerja sama dengan perusahaan ‘israel’.
Terkait hal ini, Yayasan Waqaf dan Warisan Al-Aqsha mengatakan, skema itu adalah kelanjutan dari kejahatan yang dilakukan rezim zionis di atas permukiman tertua dan terbesar di Palestina. Otoritas zionis telah menggali ratusan kuburan untuk membangun sekolah dan taman bermain di wilayah itu. Yayasan juga mengatakan, sedikitnya ada delapan proyek baru yang direncanakan rezim zionis di wilayah pemakaman itu.* (MR/ Sahabat Al-Aqsha)

sumber: http://sahabatalaqsha.com/nws/?p=11581

7.16.2013

bang tere-

Membalas si pengolok-olok

16 Juli 2013 pukul 7:00
Saya tahu, ada banyak page dan profile di facebook, website, forum, milist yang isinya dipenuhi dengan orang memperolok-olok agama. Mentertawakan ayat2 Al Qur'an, mempermainkan agama.

Maka, tentu kita marah, kita emosi. Tapi ingat selalu, BERHENTI! Jangan pernah ditanggapi. Kalian harus tahu, di jaman Rasul Allah, orang2 ini juga sudah banyak, mereka tertawa-tawa menghina ayat2 suci. Dan Allah, tidak hanya sekali, melainkan berkali2 menurunkan penjelasan bagaimana menyikapinya, salah-satunya di Al An'am 68, saya tuliskan artinya sbb:

"Dan apabila kamu (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)."

Saya bukan ahli tafsir, saya ini ahli fiksi; tapi menurut hemat saya clear sekali perintah tersebut. Silahkan buka kitab suci, juga silahkan cek (sekarang ada banyak software searching ayat Al Qur'an, kalau kita bukan hafiz), ayat serupa dengan redaksi yang sedikit berbeda, juga ada di surah2 lain.

Apa kurangnya Nabi Muhammad sebagai orang yang bisa menjelaskan? Rasul Allah jelas memiliki segalanya, keyakinan, pengetahuan, tapi beliau tetap dilarang, justeru diperintahkan agar menahan diri. Apalagi kita? Saya tahu, kita tidak terima, gregetan, marah, ingin meluruskan, ingin membantah, ingin bilang tolong berhentilah mengolok2 agama ini, tapi jikalau Rasul Allah sendiri disuruh meninggalkan mereka, apalah artinya kita?

Jangan berkecil hati, jangan sedih. Orang2 ini akan terus ada di sekitar kita. Apalagi di dunia maya. Kita bahkan tidak tahu siapa orangnya, dia boleh jadi malah bikin 10 akun yg sama untuk memperolok2 agama. Orang2 pengecut ini boleh jadi memang sengaja memancing, memprovokasi, maka senanglah hati mereka jika ada yang terjebak dalam debat tiada manfaat. Senanglah mereka jika heboh, karena tujuan mereka tergapai.

Jangan tanggapi mereka, jika kita terganggu langsung remove/ban, unfriend, bangun benteng tangguh, lantas fokuslah memperbaiki diri. Tunjukkan ke sekitar bahwa agama justeru membuat kita memiliki ahklak yang baik. Tunjukkan kita amat mencintai agama ini.

Bagaimana membalas pengolok-olok ini? Diamkan saja. Biarkan mereka mengunyah kebencian mereka sendiri. Sedangkan kita terusss melesat maju.

 *Tere Lije

7.12.2013

jiaahh,,

*Doa sapu jagad

Hampir semua orang tahu doa ini: "Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fil 'akhirati hasanatan waqina 'adzaban-nar." Sejak kecil kita terbiasa mendengarnya. Bahkan orang2 yang tidak bisa membaca Al Qur'an sekalipun, dia bisa fasih membacanya. Doa sapu jagad. Doa pamungkas, "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka".

Doa ini langsung diajarkan dalam Al Qur'an, di Al Baqarah 201. Lantas apa musabab doa ini diajarkan? Apa penyebab turunnya ayat tersebut. Juga sudah ada penjelasannya di ayat sebelumnya. Di Al Baqarah 200, "...... Maka di antara manusia ada orang yang berdo'a: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apapun."

Dulu, sebagian orang2 Arab ketika kembali dari haji, singgah di Jamarat (tempat melempar jumrah), mereka hanya sibuk berdoa: "ya Allah, jadikanlah tahun ini penuh dengan hujan, kebun kami panennya melimpah, tahun penuh kebaikan dan keberkahan" namun mereka sama sekali tidak menyebut urusan akhirat. Orang2 yang hanya peduli atas urusan dunia saja. Maka atas kondisi tersebut, turunlah ayat 200 dan kemudian di susul ayat 201 Al Baqarah.

Tentu saja ayat dan doa ini relevan hingga hari kiamat. Tidak hanya bagi orang2 Arab lama itu. Penjelasannya juga relevan atas setiap kasus yang sama. Siapapun yang berdoa hanya untuk urusan dunia, maka itulah yang akan dia peroleh. Siapapun yang hanya berkepentingan dengan dunia, pun hanya itulah yang akan dia dapat.

Maka, mari kita kembangkan penjelasan dan analoginya. Termasuk, barangsiapa yang mencari ilmu pengetahuan hanya karena kepentingan dunia, maka hanya dunialah yang dia peroleh. Orang2 yang bekerja untuk kepentingan dunia, pun sama. Dan termasuk, orang2 yang menikah, berkeluarga hanya karena alasan dunia, maka itulah yang akan diperolehnya.

Akan berbeda kasusnya jika dilengkapi dengan pemahaman untuk kebaikan akherat, serta lindungilah kami dari azab neraka, maka dia pun akan memperoleh bagiannya. Sungguh: "Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah maha cepat perhitungannya." Al Baqarah 202.


*repppppppos

feee,,

*Kekuasaan, Kemuliaan & Kehinaan

Rasul Allah selalu berpikir yang terbaik untuk ummatnya. Tidak ada keraguan atas itu. Pemimpin yang paling mencemaskan kesejahteraan orang2 yang dipimpinnya adalah Rasul Allah. Maka, dalam suatu peristiwa, yang diriwayatkan Qatadah, Rasul Allah pernah memanjatkan permohonan agar dua kekuatan besar saat itu: Persia dan Romawi masuk dalam islam dan menjadi ummatnya kelak.

Tapi karena sejatinya tentu saja semua kekuasaan sesungguhnya berada di tangan Allah, maka turunlah firman Allah dalam Al Imran 26. Sebuah kalimat yang sepertinya banyak orang tahu, pun seringkali dijadikan bacaan shalat, juga bacaan doa. Sebuah kalimat yang akrab di telingan kita.

Kalimatnya dalam bahasa Arab indah sekali. Here we go: quli allaahumma maalika almulki tu/tii almulka man tasyaau watanzi'u almulka mimman tasyaau watu'izzu man tasyaau watudzillu man tasyaau biyadika alkhayru innaka 'alaa kulli syay-in qadiirun.

Terjemahan doa tersebut adalah: Katakanlah (Muhammad): "Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Allah mengingatkan dalam ayat ini tentang hakikat kekuasaan, kemuliaan, dan kehinaan. Apapun itu, maka sungguh Allah yang berhak penuh menentukan urusan manapun. Mutlak.

Maka, tidakkah ayat ini menjelaskan banyak hal bagi kita. Pemahamannya terus relevan hingga kapanpun. Ketika ada seseorang yang berkuasa, maka itulah ketentuan Allah, mudah saja bagi Allah mengangkat siapapun di muka bumi ini memiliki kekuasaan. Ada tukang sapu yang menjadi presiden, ada pandai besi yang menjadi raja, pun yatim piatu miskin yang menjadi jenderal perang. Diantara penguasa2 itu, ada penguasa yang bertindak lurus dan amanah. Juga ada penguasa yang zalim nan aniaya. Apapun mereka, Allah yang memberikan kekuasaan tersebut, dan jelas, bagi penguasa yang penuh rasa syukur, dia akan paham detik kapanpun Allah berkehendak, kekuasaannya musnah bagai kabut disiram cahaya matahari pagi. Bagi penguasa yang zalim, mungkin tidak akan masuk diakal dia--karena bahkan dia merasa segala sesuatu itu berkat hebatnya dia sendiri, merasa dialah pemilik kekuasaanya; tapi dia mau atau tidak menerima fakta tersebut, sekali Allah mengambil kekuasaannya, musnah sudah seluruh kekuasaannya bagai debu disiram air bah. Tak bersisa. Bahkan tidak diingat lagi oleh generasi berikutnya. Terhapus dalam memori sejarah.

Aduhai, pun sama penjelasannya, bagi siapapapun yang sekarang sedang memiliki kemuliaan, itu sungguh bukan karena kita mulia. Kita pintar, lantas disanjung2 orang sekampung, itu bukan kemuliaan milik kita. Kita tampan/cantik, lantas dipuji2 orang sekecamatan, sekali mengerling, satu RT terperangah, itu jelas bukan kemuliaan milik kita. Pun kita kaya raya, lantas orang lain membungkuk2 hormat, orang bisa diatur-atur, itu sungguh bukan kemuliaan kita. Mana ada rumusnya, kita terkenal, populer, keren, berpengaruh gara-gara kita. Nggak ada. Sampai kapanpun, hingga sepersejuta milipun, tidak ada. Itu sungguh kehendak Allah saja.

Maka, pahamilah situasinya, pahamilah hakikatnya, agar kita bisa selalu bersyukur. Karena bagi Allah, mudah saja mengambil semua kemuliaan itu, mencabutnya, lantas menyiram kita dengan seluruh kehinaan. Tiada sifat sombong yang bisa melekat pada manusia, sifat pongah, congkak, merasa lebih baik. Bahkan jika Allah tidak melakukannya langsung di muka bumi, seluruh kekuasaan, kemuliaan dan kehinaan itu akan diperhitungkan di hari penghabisan. Toh, sehebat, semulia apapun kita, tetap akan mati, kalah oleh waktu, jadi bagaimana mungkin kita merasa itu semua milik kita.

Itulah hakikat kekuasaan, kemuliaan dan kehinaan, ayat ini adalah doa, memang tidak langsung terlihat permohonannya, tapi menyerukan, menyadari hakikatnya, jelas berarti kita menyerahkan segala urusan kepada Allah. Wahai Allah, di tangan Engkaulah segala kebajikan, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.


*repos

lagi-lagi harus kembali ngucapin ALHAMMDULILLAH...

-ALHAMDULILLAH 'ALA KULLI HAAL-

Ya,,,lagi-lagi harus nelan kecewa lagi..
kemaren habis ditolak SBMPTN,trus sekarang dapet kabar lagi..
seleksi ke Al azhar mesir dibatalin...
yaa,, mau gimana lagi semua dah terjadi sekarang cuma berharap bisa dapet yang terbaek,,
ya,pengganti yang terbaik  dari yang paling baik..

ya,,mungkin emang harus gini jalannya,
harus banyak ujian yang dilalui,namanya juga hidup kan??//
--life is never flat--
gitu kata pepatah jadi yaa,,kalo ada cobaan yang datang ya wajar aja kan?//
hanya tinggal berusaha bersabar,tawakkal,semua akan indah,,,


*memahami arti keadilan Tuhan:)

7.11.2013

23 juni 2013

pas itu hari ahad,,,,
tepat 18 tahun umurku--
sedih,,,ngerasa udah tua deh,,
makin berkurang juga jatah hidup di dunia sedangkan berbuat baik ja masih jarang-jarangan...
huaaaa,,,
pas itu gak ada yang istimewa se,,
yah,sekedar kumpul-kumpul bareng keluarga,,
cerita-cerita ma adek,,,
yah,setidaknya bersyukurlah masih bisa kumpul dengan orang-orang tersayang...

pas itu juga akk dapet kado dari sahabat-sahabtku,,,


ini dapet dari AFIFAH SHOLIHA



Ini juga dari afifah sholiha,dikirim lewat paket,,,

ini notenya dr AFIFAH,coklatnya dari NANDA QONITAH,gelangnya dari USTADZ ALIMIN+UMI FATIM

INI dari afifah juga,,,

ini gelangnya dari pak alimin ma umi fatim...

silver queen dari NANDA QONITAH

INI juga dari nanda qonitah,,,
 yah,,,
thankz  ya buat kalian semua,,,
muakasih banyak buat do'a,dan dukungannya ya reek...

oh iya ini juga ada ucapan dari temen-temen via sms..









hahahaha,,,
thankz y reekk buat semuanya...
kesempatan terindah bisa kenal kalian....

#hmm,,